0
Dikirim pada 24 Desember 2009 di curhat......

Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Segala puji bagi Allah… Segala puji milik Allah…  Tuhan semesta Alam..

Aku bersaksi tiada Tuhan yg berhak disembah selain Allah…  Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad ialah hamba dan utusan Allah…

Hanya kepada Allah kami menyembah… Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan… Hanya kepada Allah kami berharap... Hanya kepada Allah tempat bergantung segala sesuatu.. Hanya kepada Allah kami berlindung dari godaan setan yang terkutuk yang menghembuskan godaan yang sesat…

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan…

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi… Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji…

Shallawat, sallam, rahmat, & berkah semoga Allah azza wa jalla curahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, keluarganya, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in..

Semoga Ampunan, salam, rahmat, & berkah semoga Allah curahkan kepada kami hamba-hamba Allah azza wa jalla sebagai ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam sampai hari akhir nanti…
Amma Ba’du

Dalam Artikel ini Zulfi Coba menjelaskan Seputar Masalah Ta’aruf  yang mana orang masih bingung Apa itu Ta’aruf.


Terjemahan Dalam bahasa Arab Ta’aruf adalah perkenalan, saling mengenal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al Hujuraat 13)

Ta’aruf mengandung makna umum perkenalan, saling kenal mengenal. Baik itu dua insan manusia, atau lebih. Baik itu antara 2 kumpulan manusia atau lebih. Dan lain-lainnya yang semakna.

Ta’aruf berarti melakukan aktifitas atau kegiatan bersilaturrahiim dengan dua orang atau lebih, Baik itu antara dua kumpulan manusia  Atau lebih, untuk perkenalan atau untuk saling mengenal.

Ta’aruf boleh di lakukan siapa saja baik itu untuk persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah), pertemanan, pernikahan, bisnis, masuk suatu perkumpulan, masuk suatu majelis ilmu, Dan lain-lainnya.
Dan ini bisa jadi makna khusus



Ta’aruf persaudaraan sesama muslim Dan pertemanan.


Ta’aruf bisa di lakukan di dunia nyata Ataupun dunia maya.

1. Ta’aruf bisa di lakukan di dunia nyata Misalkan Ta’aruf persaudaraan sesama muslim bertemu di sebuah mesjid bersilaturrahiim dengan contoh berikut :

Di sebuah mesjid setelah selesai shalat zulfi (ikhwan) duduk di tangga di luar mesjid menunggu adiknya nisa (akhwat) yang sedang shalat di dalam mesjid, Tiba tiba Ada yang menyapa zulfi namanya surya (ikhwan) mereka berdialog :

Surya  :  Assalamu’alaikum ya Akhi..???
Zulfi   :  Wa’alaikumsalam warahmatullah ya Akhi..
Surya :  Afwan, nama ana surya… Antum..???
(surya memperkenalkan diri dan bertanya, dengan saling bersalaman)
Zulfi :  Oh.. ana zulfi…

(Nah perbincangan sampai sini saja bisa dikatakan Ta’aruf persaudaraan sesama muslim ….)

Dalam menjawab salam pemaparannya panjang jd intinya menjawab salam dengan:
Wa’alaikumsalam. (cukup)
Wa’alaikumsalam warahmatullah (Bagus)
Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. (Lebih bagus)

Rasulullah Shallallaahu �alaihi wa sallam mengatakan: "Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah"
 (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu �anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu �alaihi wa sallam : "Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal". (Muttafaq�alaih).

Dianjurkan tidak menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat berjabat tangan sebelum orang yang dijabat tangani itu melepasnya. Hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu �anhu menyebutkan: "Nabi Shallallaahu �alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya...." (HR. At- Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).


Lanjut….!

Surya : Afwan mau nanya kalau kalau ke Mesjid DT Dari sini kearah mana ya.. ???
 (misalkan mesjidnya tempat mereka shalat Ada di cicaheum)
Zulfi  : Oh.. kebetulan kami juga mau kesana..
Surya : oh gitu ya.. kalau gitu kebetulan bisa bareng kesana..
Zulfi  : boleh, kita bareng aja… tapi bentar nugguin adikku beres shalat.
(tiba-tiba nisa datang Dan mengucap salam kepada ikhwan Zulfi Dan Surya)
Nisa  : Assalamu’alaikum…
Zulfi   : Wa’alaikumsalam warahmatullah… Surya kenalkan ini nisa..
Surya : Assalamu’alaikum ya ukhti…
Nisa  : : Wa’alaikumsalam warahmatullah ya Akhi…
( Surya Dan Nisa memandang dengan sekilas Dan sekali pandangan, sambil memberi tanda untuk tidak bersentuhan dalam besalaman, setelah itu Surya Dan Nisa memalingkan padangan mereka ke bawah)


(Nah perbincangan sampai sini saja bisa dikatakan Ta’aruf Antara Surya Dan Nisa… Terus Antara ikhwan Zulfi Dan Surya terus Berta’aruf menuju pertemanan dengan saling bertanya, Berapa nomor telpon, rumahnya dimana, dst. )

Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Rasulullah Shallallaahu �alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda: "Sesung-guhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita". (HR.Turmudzi dan Nasai, dan dishahihkan oleh Albani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; “ (Qs. An Nuur 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya“ (Qs. An Nuur 31)

Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan pertama kepada pandangan kedua, maka sesungguhnya bagimu yang pertama dan bukan untukmu yang kedua." (HR. Tirmidzi)


2. Ta’aruf bisa di lakukan di dunia nyata Misalkan Ta’aruf persaudaraan sesama muslim di sebuah jejaring sosial komunitas muslim terbesar di indonesia cybermq. Kita contohkan sebagai berikut :


A. Contoh Chating Awal ta’aruf Antara Surya99 Chating dengan zulfi19 (ikhwan) :

Surya99 : Assalamu’alaikum Akhi…
Zulfi19  : Wa’alaikumsalam warahmatullah…
Surya99 : salam ukhuwah…
Zulfi19  : yaa.. salam ukhuwah jg…
(disini salam ukhuwah bisa juga diganti dengan salam ta’aruf, … salam ukhuwah Dan salam ta’aruf boleh tidak di tulis… secara tidak langsung dengan perbincangan selanjutnya termasuk ukhuwah Dan ta’aruf)
Surya99 : gmn kbrnya…???
Zulfi19  : Alhamdulillah baik… Antum gmn kbrnya..?
Surya99 : Alhamdulillah baik jg… Ana add ya jd temen?
Zulfi19  : oh.. silahkan… ntr Ana App..
Surya99 : Akhi tinggal dmn di profilnya gak Ada?
Zulfi19 : oh.. Ana dibandung..  klo Antum..?
Surya99 : hehe.. sama Ana dibandung jg..


(Chating sampai sini saja bisa dikatakan Ta’aruf Ta’aruf persaudaraan sesama muslim menuju Ta’aruf pertemanan….)


B. Contoh Chating Awal ta’aruf Antara Surya99 Chating dengan nisa91 (akhwat) :

Surya99 : Assalamu’alaikum ukhti…
nisa91    : Wa’alaikumsalam warahmatullah…
Surya99 : salam ukhuwah…
nisa91   : yaa.. salam ukhuwah jg…
(disini salam ukhuwah bisa juga diganti dengan salam ta’aruf, … salam ukhuwah Dan salam ta’aruf boleh tidak di tulis… secara tidak langsung dengan perbincangan selanjutnya termasuk ukhuwah Dan ta’aruf)
Surya99 : gmn kbrnya…???
nisa91    : Alhamdulillah baik… Antum gmn kbrnya..?
Surya99 : Alhamdulillah baik jg… Ana add ya jd temen?
nisa91    : oh.. silahkan… ntr Ana App..
Surya99 : Akhi tinggal dmn di profilnya gak Ada?
nisa91    : oh.. Ana dibandung..  klo Antum..?
Surya99 : hehe.. sama Ana dibandung jg..

(Chating sampai sini saja bisa dikatakan Ta’aruf Ta’aruf persaudaraan sesama muslim menuju Ta’aruf pertemanan….)

Catatan : untuk salam itu Tidak boleh disingkat baik dalam Chating, sms, nulis surat, Dan lain-lainnya.. untuk Tulisan tahmid, tasbih, takbir,tahlil, dzikir-dzikir, do’a Dan lain-lainnya Tidak boleh disingkat juga)



Ta’aruf menuju Pernikahan


Apabila orang berkata “Pacaran” otomatis secara makna umum itu tertuju pada pasangan yang belum nikah yang melakukan perbuatan Haram, berdasarkan Dalil-Dalil yang bersumber Al-Qur’an Dan Al hadist nyata bahwa Bacaran itu HARAM.

Sering zulfi berdiskusi soal Pacaran itu Haram, beberapa orang mengingkari Dalil-Dalil yang bersumber Al-Qur’an Dan Al hadist yang nyata kebenarannya. Suatu saat dengan seseorang berdiskusi..
Kata siapa Pacaran Haram anda jangan Asal bicara..!!?
Zulfi jawab: memang Realitannya begitu Dan para ulama shalih yang nyata tinggi ilmunya mengharamkan Pacaran, setelah zulfi teliti Dalil-Dalil yang bersumber Al-Qur’an Dan Al hadist yang nyata kebenarannya ternyata Haram.
Anda belum pernah merasakan pacaran..? satu tahun atau beberapa saat kedepan anda menyesal karena mengharamkan Pacaran..?
Zulfi jawab: justru dulu senang pacaran setelah nyata Dalil-Dalil yang bersumber Al-Qur’an Dan Al hadist zulfi meninggalkannya karena pacaran haram, kenapa harus menyesal justru harus bangga berada dijalan yang lurus…
Setelah panjang diskusi, ternyata konteks di pikiran orang itu soal Pacaran disana makna khusus maksudnya setelah nikah..  halahhh… udah jelas zulfi ngebahas konteks pacaran makna umum yaitu sebelum nikah, padahal sangat panjang penjelasannya artikel itu… welehh… atau dia menghalalkan pacaran sebelum nikah??? Nggak tau juga.. yg pasti dia mungkin tersinggung dengan Dalil-Dalil yang bersumber Al-Qur’an Dan Al hadist yang nyata kebenarannya yang mengharamkan pacaran..

Ta’aruf dengan maksud persaudaraan bisa menuju pertemanan bisa berubah menuju pernikahan.

Ta’aruf dengan maksud pernikahan bisa berubah menjadi pertemanan.

Ta’aruf dengan maksud pernikahan bisa berubah menjadi bisnis.

Dan-lain-lainnya perubahan Taaruf tergantung kondisi. Adapun Ta’aruf maknanya bisa berubah-ubah juga tergantung kalimat Dan maksud.


Kata Ta’aruf sekarang ini di kalangan aktifis dakwah Remaja muslim di indonesia lebih di kenal sebagai media Atau jalur yang syar’I menuju jenjang penikahan.  Adapun dikalangan sebagian muslim kalangan aktifis dakwah jalur Awal menuju jenjang penikahan secara syar’I adalah dengan kata nazhar (melihat, memandang). Kedua-duanya benar keduanya makna itu bisa dipakai sebagai media, jalur Awal yan syar’I menuju jenjang penikahan.

Apabila seseorang bertanya “Antum pernah Ta’aruf gak ?” Atau mengajukan kata ajakan “ Ta’aruf yuk..?” Atau mengucakan keinginan “pengen Ta’aruf nich..!” Dan lain-lainnya yang semakna, sekarang ini secara makna kata-kata Ta’aruf disana menandakan Ta’aruf yang menuju proses ke pernikahan.

Ta’aruf disini Adalah suatu kegiatan Atau suatu proses yang syar’I di Awali dengan bersilaturrahiimnya pihak laki-laki (ikhwan) kepada pihak perempuan (akhwat) Dalam Rangka perkenalan Atau saling mengenal kedua belah pihak untuk menuju kejenjang penikahan.

Adapun Prosesnya, untuk pihak ikhwan bersilaturrahiimnya mendatangi Rumah pihak akhwat. ikhwan  itu boleh sendiri, tapi lebih baik bersama orang yang ilmu Agamanya benar, baik itu paman atau ustadz yang sekarang dikenal juga dengan kata murabi, lebih baik lagi di barengi juga kedua Orang tua supaya proses Ta’aruf-nya jelas, lebih di percaya, lebih saling kenal mengenal, lebih saling menilai Antara kedua belah pihak.

Tatkala pihak ikhwan bersilaturrahiim mendatangi Rumah akhwat, Untuk akhwat harus di barengi dengan mahramnya Yaitu kakaknya Dan lebih baik dibarengi dengan Orang tuannya serta orang yang ilmu Agamanya benar atau ustadz/murabi.

Di dalam proses itu mereka saling bertanya Dan saling menjawab tentang kedua belah pihak, serta ada proses nazhar-nya Yaitu proses ikhwan nazhar (melihat, memandang) Akhwat. Begitu pula Akhwat boleh nazhar ikhwan

Kenapa mereka saling bertanya Dan saling menjawab dan Nazhar ?

Karena dalam hadist di jelaskan Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wassalam bersabda: Seorang wanita itu dinikahi karena empat hal : (1) Hartanya, (2) nasab (keturunan)-nya, (3) kecantikannya dan (4) agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR shahih Bukhari)

Dari hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda : "Jika salah seorang diantara kalian meminang seorang wanita sekiranya ia dapat melihat sesuatu darinya yang mampu menambah keinginan untuk menikahinya, maka hendaklah ia melihatnya" (HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad hasan dan dishahihkan oleh Al-Hakim )

Dari Mughirah bin Syu�bah bahwasanya ia melamar seorang wanita maka Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Lihatlah ia karena itu lebih melekatkan kalian berdua" (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa�i dan Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: “bahwasanya seorang pria melamar seorang wanita, lalu beliau bertanya, "Apakah engkau telah melihatnya?" ia berkata:"belum". Beliau bersabda,"Pergilah dan lihatlah ia". (HR. Muslim dalam Shahih)

Jadi mereka saling bertanya Dan saling menjawab untuk merngetahui hartanya, nasabnya, Agamanya serta saling Nazhar (melihat, memandang) kecantikan/ketampanan yang utama pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.

Menurut hadits-hadits diatas juga dapat kita pahami bahwa islam mensyariatkan calon suami untuk melihat Akhwat yang akan dinikahinya. Bahkan al-Imam al-A’masy t mengatakan :

“Setiap pernikahan yang terlaksana tanpa adanya nazhar, maka pernikahan itu akan diakhiri dengan derita dan duka.”

Nazhar (melihat, memandang) juga bisa diartikan tidak cuman kecantikan/ketampanan masing-masing bisa Nazhar (melihat, memandang) hartanya, nasabnya, Agamanya dalam artian untuk menilai hartanya, nasabnya, Agamanya Dalam koridor memakai adab. Yang diutamakan kita Nazhar Agamanya pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.

Nazhar Akhwat yang hendak dinikahi merupakan kebaikan bagi kedua belah pihak. Mata adalah utusan hati yang bertugas menyampaikan semua informasi yang dilihatnya. Jika hatinya tenang dan tetap menyukai wanita yang dilihatnya maka ia bisa lebih memantapkan dirinya untuk menjadikan wanita itu sebagai pasangan hidupnya. Sementara jika hatinya dipenuhi keraguan dan kemauannya melemah kemudian dia membatalkan menuju jenjang selanjutnya, maka yang demikian ini lebih baik bagi ikhwan dan akhwat. Karena membatalkan menuju jenjang selanjutnya adalah lebih baik daripada bercerai di tengah perjalanan dalam mengarungi Rumah tangga.

Adapun saat Nazhar, Akhwat itu harus di barengi dengan mahramnya. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: Jangan sampai seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita, kecuali didampingi oleh mahramnya" (Muttafaq ’alaihi)

Dari hadits Jabir dan dari hadits ’Amir bin Rabi’ah katanya, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: Tiada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiganya adalah syetan" (HR. At-Turmudzi dan Imam Ahmad)


Tentang masalah Nazhar Ada perbedaan diantara ulama. Menurut jumhur ulama, "Diperbolehkan bagi pelamar melihat wanita yang dilamarnya",akan tetapi mereka tidak diperbolehkan melihat kecuali hanya sebatas wajah dan kedua telapak tangannya".

Al-Auza�i mengatakan:"Boleh melihat pada bagian-bagian yang dikehendaki, kecuali aurat".

Ibnu Hazm mengatakan:"Boleh melihat pada bagian depan dan belakang dari wanita yang hendak dilamarnya".

Imam Ahmad, terdapat tiga riwayat mengenai hal lain.
1. seperti yang diungkapkan jumhur ulama
2. melihat apa-apa yang biasa terlihat
3. melihatnya dalam keadaan tidak mengenakan tabir penutup (jilbab).

Jumhur ulama juga berpendapat: "Diperbolehkan melihatnya, jika ia menghendaki tanpa harus minta izin terlebih dahulu dari wanita yang hendak dilamarnya (secara sembunyi-sembunyi)". Adapun menurut Imam Malik, dari sebuah riwayat bahwa beliau mensyaratkan adanya izin dari wanita tersebut.

Adapun soal bertukar Foto baik sebelum Ta’aruf Atau setelah Ta’aruf itu TIDAK BOLEH, karena beberapa sebab:
1. Kemungkinan foto tersebut akan disimpan oleh pelamar, meski ia tidak jadi menikah.
2. Foto tersebut tidak bisa mewakili keadaan orang yang sebenarnya, karena terkadang rupa yang bagus menjadi jelek atau sebaliknya (menjadi bagus) disebabkan foto.
3. Tidak pantas bagi seorangpun untuk memberikan peluang kepada orang lain mengambil foto salah satu anggota keluarganya, baik anak wanita, saudara wanita atau yang lain. Hal tersebut tidak boleh karena megandung fitnah.
Boleh jadi foto tersebut jatuh ketangan orang-orang yang fasik, sehingga anak-anak wanita kita akan menjadi bahan tontonan. Jika ia berwajah cantik ia menjadi fitnah bagi banyak orang, namun jika ia berparas kurang rupawan maka ia akan menjadi bahan cercaan orang.
(Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 20/810)

Jadi jelas Ta’aruf disini adalah Proses Awal menuju kemungkinan terjadinnya pernikahan sebagai media, cara, jalur yang syar`I yang dapat digunakan untuk saling mengenal kedua belah pihak terhadap masing-masing calon pasangan. kedua belah pihak bisa lebih mengenal lebih dalam, tidak hanya terkait dengan hal-hal yang besar saja yaitu tentang Hartanya, nasab (keturunan)-nya, kecantikannya atau ketampanannya dan  agamanya temasuk aqidah Dan akhlaqnya termasuk nazhar. tetapi kita dapat mengetahui hal-hal lain yang sama besarnya Dan hal-hal kecil yang menurut kedua belah pihak sangat penting, seperti : benar gak perawan..?, benar gak perjaka…?, janda bukan…?, duda bukan..?, mempunyai penyakit berbahaya gak..? mempunyai kebiasaan buruk gak..?, sekufu tidak..?, Dan hal-hal lainnya. karena semua itu penting menyangkut kehidupan kedepannya dalam mengarungi Rumah tangga , Tetapi semua itu harus dilakukan dengan sesuai dengan etika dalam bertanya dan menjawab. Dan Apabia saat Ta’aruf tidak ada kejujuran maka tatkala sesudah pernikahan terjadi kemungkinan besar Rumah tanggannya berantakan terus Dan bisa hancur ditengah jalan karena perceraian.

Jadi jelas Ta’aruf sangatlah penting…!!!


Kelanjutan Proses Ta’aruf


Adapun Kelanjutan Proses Ta’aruf itu tergantung kedua belah pihak, saat hari itu Ta’aruf di proses setelah saling bertanya, saling menjawab, saling berbincang, saling mengetahui, saling nazhar, saling menilai, Dan lain-lainya. bisa saja hari itu langsung berlanjut khitbah(meminang), bahkan hari itu bisa langsung nikah kalau kedua belah pihak telah cocok.

Kelanjutan Proses Ta’aruf yang sering terjadi adalah kedua belah pihak tidak langsung mengatakan setuju untuk berlanjut keproses selanjutnya yaitu proses kitbah (meminang) untuk nikah atau langsung nikah tanpa khitbah. Tetapi kedua belah pihak biasanya meminta waktu untuk ber-istikharah (shalat Dan do’a istikharah yaitu bermusyawarah dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meminta petunjuk, meminta ketetapan atau keteguhan hati dalam menentukan pilihan) serta bermusyawarah keluarga atau kadang disertakan ustadz/murabi dari masing-masing pihak, Karena dulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam orang tuanya meninggal waktu kecil jadi bermusyawarah dengan sahabatnya.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Qur-an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah (Istikharah) dua rakaat, kemudian baca-lah doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi perso-alanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, se-sungguhnya Engkau Mahakuasa, se-dang aku tidak kuasa, Engkau mengeta-hui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendak-nya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terha-dap diriku atau -Nabi n bersabda: …di dunia atau akhirat- sukseskanlah untuk-ku, mudahkan jalannya, kemudian beri-lah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, per-ekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja keba-ikan itu berada, kemudian berilah kere-laanMu kepadaku”
(HR shahih Bukhari).
Tidak menyesal orang yang ber-istikharah kepada Al-Khaliq dan bermusyawarah dengan orang-orang mukmin dan berhati-hati dalam menangani perso-alannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
 “… Dan bermusyawarahlah kepada mereka (para sahabat) dalam urusan itu (peperangan, perekonomian, politik dan lain-lain). Bila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah…”
(Q.s Ali Imran 159)

Adapun ber-istikharah (shalat Dan do’a istikharah yaitu bermusyawarah dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meminta petunjuk, meminta ketetapan atau keteguhan hati dalam menentukan pilihan) memang sangat bagus jadi ber-istikharah bisa dikerjakan setiap hari itu lebih baik serta bersama-sama ber-istikharah seluruh anggota kekeluarga, baik kita sebelum ada calon untuk diajak Ta’aruf dan setelah ada calon untuk Ta’aruf atau dalam proses Ta’aruf.

Jadi Kelanjutan proses Ta’aruf kadang bisa ditentuin atau kadang tidak bisa ditentui waktunya terserah kedua belah pihak,  karena itu masing-masing pihak berhak menentukan jadi atau tidak Ta’aruf dilanjutin kepernikahan Atau batal.

Contoh proses awal Ta’aruf serta Kelanjutan Ta’aruf :

1. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, kalau kedua belah pihak telah cocok, terus bermusyawarah Antara kedua belah pihak, dan saat itu juga kedua belah pihak telah setuju untuk langsung nikah saat itu juga tanpa khitbah, maka insya Allah terjadilah pernikahan hari itu tanpa khitbah.

2. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, kalau kedua belah pihak telah cocok, terus bermusyawarah Antara kedua belah pihak, dan saat itu juga kedua belah pihak telah setuju untuk langsung nikah beberapa hari kedepan tanpa khitbah, maka insya Allah terjadilah pernikahan tanpa khitbah beberapa hari kedepan.

Zulfi Misalkan satu hari kedepan, berarti besoknya insya Allah terjadilah pernikahan tanpa khitbah, atau 2,3,4 (hari)… dst.

3. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, kalau kedua belah pihak telah cocok, terus bermusyawarah Antara kedua belah pihak, dan saat itu juga kedua belah pihak telah setuju untuk langsung khitbah, terus kedua belah pihak telah setuju untuk nikah beberapa hari kedepan, maka insya Allah terjadilah pernikahan beberapa hari kedepan dengan.

Zulfi Misalkan satu hari kedepan, berarti besoknya insya Allah terjadilah pernikahan, atau 2,3,4(hari) … dst.

4. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, kalau kedua belah pihak telah cocok, terus bermusyawarah Antara kedua belah pihak, dan saat itu juga kedua belah pihak telah setuju untuk khitbah beberapa hari kedepan, terus Insya Allah pernikahan terjadi beberapa waktu kedepan setelah khitbah.

Zulfi Misalkan satu hari kedepan, berarti besoknya insya Allah terjadilah khitbah, atau 2,3,4 (hari) … dst, Insya Allah terjadi khitbah dan Insya Allah pernikahan terjadi beberapa waktu kedepan setelah khitbah.

5. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, pihak ikhwan telah merasa cocok, tapi pihak akhwat belum merasa cocok, Di sini pihak akhwat meminta waktu kepada pihak ikhwan untuk ber-istikharah serta bermusyawarah dengan keluarganya, adapun ustadz/murabinya boleh disertakan boleh tidak dalam musyawarah itu.

kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf tapi belum tentu khitbah Dan nikah. Jikalau suatu saat, baik sehari besok Atau beberapa waktu kedepan pihak akhwat merasa cocok, maka boleh khitbah dulu terus beberapa waktu kedepan nikah Atau boleh langsung nikah tanpa khitbah dulu.

Ada kemungkinan kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf, terus sehari besok Atau beberapa waktu kedepan pihak akhwat tidak merasa cocok terus Di berhentikannya ta’aruf oleh pihak akhwat maka proses ta’aruf berakhir.

6. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, pihak ikhwan belum merasa cocok, tapi pihak akhwat merasa cocok, Di sini pihak ikhwan meminta waktu kepada pihak akhwat untuk untuk ber-istikharah serta bermusyawarah dengan keluarganya, adapun ustadz/murabinya boleh disertakan boleh tidak dalam musyawarah itu.

kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf tapi belum tentu khitbah Dan nikah. Jikalau suatu saat, baik sehari besok Atau beberapa waktu kedepan pihak ikhwan merasa cocok, maka boleh khitbah dulu terus beberapa waktu kedepan nikah Atau boleh langsung nikah tanpa khitbah dulu.

Ada kemungkinan kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf, terus sehari besok Atau beberapa waktu kedepan pihak ikhwan tidak merasa cocok terus Di berhentikannya ta’aruf oleh pihak ikhwan maka proses ta’aruf berakhir.

7. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, pihak ikhwan belum merasa cocok, tapi pihak akhwat belum merasa cocok. Di sini kedua belah pihak masing-masing ber-istikharah serta bermusyawarah dengan keluarganya, adapun ustadz/murabinya boleh disertakan boleh tidak dalam musyawarah itu.

kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf tapi belum tentu khitbah Dan nikah. Jikalau suatu saat, baik sehari besok Atau beberapa waktu kedepan kedua belah pihak masing-masing merasa cocok, maka boleh khitbah dulu terus beberapa waktu kedepan nikah Atau boleh langsung nikah tanpa khitbah dulu.

Ada kemungkinan kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf, terus sehari besok Atau beberapa waktu kedepan salah satu pihak tidak merasa cocok terus Di berhentikannya ta’aruf oleh salah satu pihak maka proses ta’aruf berakhir.

8. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, pihak ikhwan Tidak merasa cocok, tapi pihak akhwat merasa cocok. Maka hari itu juga proses ta’aruf boleh tidak dilanjutkan pihak ikhwan. Tapi dengan menggunakan etika, bagusnya kabarin kepada pihak akhwat besok harinya.

9. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, pihak ikhwan m merasa cocok, tapi pihak akhwat tidak merasa cocok. Maka hari itu juga proses ta’aruf boleh tidak dilanjutkan pihak akhwat. Tapi dengan menggunakan etika, bagusnya kabarin kepada pihak ikhwan besok harinya.

10. Pihak ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas. Karena berbagai macam sebab Atas kehendak Allah Disini proses Ta’aruf bisa berlanjut Dan bisa tidak, bisa khitbah Dan bisa tidak, bisa nikah Dan bisa tidak.

Jadi untuk proses Awal Ta’aruf jelas belum tentu berlanjut berakhir dengan proses akhir nikah. Kedua belah pihak harus ikhlas menerima kenyataan penolakan salah satu pihak, walaupun kekecewaan datang. Karena kalau ikhlas menerima kenyataan penolakan salah satu pihak, insya Allah bakalan mendapatkan pahala yang besar karena itu termasuk beriman dengan Qadha Dan Qadarnya Allah. Insya Allah janji Allah Adalah benar tidak pernah ingkar kita Akan diberikan balasan itu baik ketika didunia atau tersimpan dibalas dengan lebih baik lagi di hari kemudian.

Sebagian besar ulama untuk pernikahan Di usahan untuk disegerakan karena memiliki Tujuan dengan banyak ke utaman. Jadi bagusnya kalau ikhwan Dan akhwatnya sudah merasa cocok. Terus ikhwan itu di ridhai Agamannya maka segera nikahkan. kalau orang tua  mereka melarang untuk menikah maka Haram hukumnnya menurut kesepakatan mayoritas ulama. Mereka berdalil dari bayak sumber salah satunnya :


Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam telah bersabda : Apabila datang kepada kamu orang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya untuk meminang (putrimu) makan kawinkanlah ia, sebab jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan malapetaka yang sangat besar"
[Riwayat At-Turmudzi, dan Ibnu Majah.]


TUJUAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

[1]. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi Di tulisan terdahulu  kami  sebutkan bahwa pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam. 

[2]. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur. Sasaran utama dari disyari�atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.

Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda :  " Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya".
(Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa�i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

[3]. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami. Dalam Al-Qur�an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman ayat berikut : 

“Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma�ruf atau menceraikan dengan cara yang bail. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim”. (Qs Al-Baqarah  229)

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari�at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduany sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah lanjutan ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 

“Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diternagkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui “. (Qs. Al-Baqarah  230)

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari�at islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari�at Islam adalah wajib. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan  beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu:  Harus Kafa�ah dan Shalihah. 

[a]. Kafa�ah Menurut Konsep Islam Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara  pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu� (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.  Menurut Islam, Kafa�ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa�ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".  (QsAl-Hujurat : 13).

Dan mereka tetap sekufu� dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berfaham materialis dan mempertahanakan adat istiadat wajib mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur�an dan Sunnah Nabi yang Shahih.

Sabda Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam : Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 6:123, Muslim 4:175] 

[b]. Memilih Yang Shalihah Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihan dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur�an wanita yang shalihah ialah : Wanita yang shalihah ialah yang ta�at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)". (Qs. An-Nisaa  34)

Menurut Al-Qur�an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah :  “Ta�at kepada Allah, Ta�at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32), Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, Ta�at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta�at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya".  Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak (banyak keturunannya)  dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat. 

[4]. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah. Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah (sedekah). 

Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : "Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?" Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam menjawab : "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? "Jawab para shahabat :"Ya, benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa�i dengan sanad yang Shahih). 

[5]. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih. Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

”Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?". (Qs. An-Nahl 72)

Dan yang terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.  Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.  Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

 [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10-11/Th I/1415-1994. Diterbitkan Oleh Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt II Kartopuran 241A Surakarta 57152]

jelas besar Tujuan njkah mempunyai ke utamaan yang Agung serta Pahala yang mulia, jadi yang penting, ikhwan itu di ridhai Agamannya maka. Niahkanlah.


Dari blognya saudara Anas ayahara, “semoga Allah merahmatimu”. Tertulis sebagai berikut.

"Ada sebuah Buku yang bilang
* "-berani taaruf, berani menikah... siapkan mentalmu!,
* Deadline taaruf maksimal 3 bulan,
* *hati2 taaruf ganda.. biasanya, orang yg melakukan taaruf ganda adalah orang yg tidak yakin kepada Allah"

Mari kita sanggah buku itu, beda pendapatkan boleh
"-berani taaruf, berani menikah... siapkan mentalmu!,
Siapa Bilang Taaruf cuma menjurus urusan Menikah, nggak niat menikah nggak dilarang Taaruf, Taaruf dari bahasa arab yang artinya saling berkenalan. orang berkenalan Mau nikah mau kagak. itu Urusan Taqdir nanti, alias hal ghaib.

Bahkan sering terjadi hanya berniat kenalan saja eh malah menikah. sudah rejeki
sebaliknya
ada orang yang berniat menikahinya, tapi cuma jadi kenalan doang.

Deadline taaruf maksimal 3 bulan,
ini lebih aneh lagi, masak berkenalan dibatasi deadline emangnya wartawan? berkenalan mau lama mau sebentar nggak ada dalil dan anjurannya, berserah dirilah pada Allah.

*hati2 taaruf ganda.. biasanya, orang yg melakukan taaruf ganda adalah orang yg tidak yakin kepada Allah"

dianggap kurang yakin pada Allah? nggak gitu2 amat/
dilarang banyak taaruf/ berganda? ini juga sangat aneh, justru mengesankan taaruf seperti pacaran (nggak boleh pacaran lebih dari satu) kalau mau yang baru, maka yang lama harus diputusin.

Kalau mau taaruf dengan yang lain harus mutusin silaturahmi dengan yang lama, aya aya wae
baca juga klik http://jakataaruf.blogspot.com/


zulfi coba mengomentari:

* "-berani taaruf, berani menikah... siapkan mentalmu!,

zulfi paham maksudnya, Ta’aruf disini dalam konteks Ta’aruf menuju pernikahan. Baca Artikel zulfi di Atas..

Jadi jelas Ta’aruf disini adalah Proses Awal menuju kemungkinan terjadinnya pernikahan sebagai media, cara, jalur yang syar`I yang dapat digunakan untuk saling mengenal kedua belah pihak terhadap masing-masing calon pasangan. kedua belah pihak bisa lebih mengenal lebih dalam, tidak hanya terkait dengan hal-hal yang besar saja yaitu tentang Hartanya, nasab (keturunan)-nya, kecantikannya atau ketampanannya dan  agamanya temasuk aqidah Dan akhlaqnya termasuk nazhar. tetapi kita dapat mengetahui hal-hal lain yang sama besarnya Dan hal-hal kecil yang menurut kedua belah pihak sangat penting, seperti : benar gak perawan..?, benar gak perjaka…?, janda bukan…?, duda bukan..?, mempunyai penyakit berbahaya gak..? mempunyai kebiasaan buruk gak..?, sekufu tidak..?, Dan hal-hal lainnya. karena semua itu penting menyangkut kehidupan kedepannya dalam mengarungi Rumah tangga , Tetapi semua itu harus dilakukan dengan sesuai dengan etika dalam bertanya dan menjawab. Dan Apabia saat Ta’aruf tidak ada kejujuran maka tatkala sesudah pernikahan terjadi kemungkinan besar Rumah tanggannya berantakan terus Dan bisa hancur ditengah jalan karena perceraian.

Yang jadi masalah disini. Tidak semua Ta’aruf berujung nikah, kenapa?

Kalau Ada kecocokan baru terjadi pernikahan. Karena seperti keterangan diatas di Artikel zulfi pelajari dulu.
Kalau tidak ada kecocokan tidak selalu terjadi pernikahan
..
Bagi keduannya yang di utamakan agamanya temasuk aqidah Dan akhlaqnya. sekarang banyak Aliran sesat jadi harus hati-hati dalam menilai agamanya..

Jadi kalau setiap Ta’aruf harus wajib nikah bisa merugikan salah satu pihak bahkan kedua belah pihak.
Kita bukan milih kucing didalam karung, kemungkinan besar Rumah tanggannya berantakan terus Dan bisa hancur ditengah jalan karena perceraian. tapi kita memilih calon istri Atau suami leat ta’aruf untuk memiliki Tujuan pernikahan ( Baca Tujuan TUJUAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM diatas)


Adalah kemungkinan-kemungkinan terjadinya dari ta’aruf dari makna umum jadi khusus :

Ta’aruf dengan maksud persaudaraan Ta’aruf dengan maksud pertemanan

Ta’aruf dengan maksud pertemanan. bisa berubah menuju pernikahan.

Ta’aruf dengan maksud pernikahan, bisa berubah menjadi pertemanan.

Ta’aruf dengan maksud pernikahan, bisa berubah menjadi bisnis.

 
* Deadline ta’aruf maksimal 3 bulan.

Zulfi paham maksudnya, Ta’aruf disini dalam konteks makna Ta’aruf khusus yaitu Ta’aruf menuju pernikahan. Seperti zulfi jelaskan dalam Artikel diatas Contoh proses awal Ta’aruf serta Kelanjutan Ta’aruf. Segala sesuatu bisa terjadi kalau ada kecocokan hari pertama ta’aruf bisa Langsung nikah bisa langsung berakhir.

Sekarang Zulfi Misalkan Gini :
ikhwan hari ini melakukan proses awal Ta’aruf dengan datang bersilaturahmi kepada pihak akhwat, setelah proses didalamnnya jelas, pihak ikhwan telah merasa cocok, tapi pihak akhwat belum merasa cocok, Di sini pihak akhwat meminta waktu kepada pihak ikhwan untuk ber-istikharah serta bermusyawarah dengan keluarganya, adapun ustadz/murabinya boleh disertakan boleh tidak dalam musyawarah itu.

kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf tapi belum tentu khitbah Dan nikah.
Jikalau suatu saat, baik sehari besok Atau beberapa waktu kedepan pihak akhwat merasa cocok, maka boleh khitbah dulu terus beberapa waktu kedepan nikah Atau boleh langsung nikah tanpa khitbah dulu.

Disini pihak ikhwan Dan pihak akhwat bisa bermusyawarah bersama soal waktu deadline Ta’aruf bisa ditentuin bisa tidak , masing-masing pihak juga berhak menentukan deadline menunggu keputusan jadi tidaknnya nikah tanpa dengan pihak lain

Ada kemungkinan kedua belah pihak berarti tetap melanjutkan proses ta’aruf, terus sehari besok Atau beberapa waktu kedepan pihak akhwat tidak merasa cocok terus Di berhentikannya ta’aruf oleh pihak akhwat maka proses ta’aruf berakhir. Ada kemungkinan juga setelah berakhir bisa melanjutkan proses ta’aruf lagi.

Jadi Waktu kadang bisa ditentuin, bisa tidak oleh, itu hak masing-masing pihak


*hati2 taaruf ganda.. biasanya, orang yg melakukan taaruf ganda adalah orang yg tidak yakin kepada Allah"

Zulfi paham maksudnya, Ta’aruf disini dalam konteks makna Ta’aruf khusus yaitu Ta’aruf menuju pernikahan.

bahasa “orang yg melakukan taaruf ganda adalah orang yg tidak yakin kepada Allah” zulfi ingkari, kenapa?

Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Tahu.. bisa jadi orang itu tidak ngerti Etika, Tidak ngerti Apa itu Ta’aruf, Dan lain-lainnya.

Seperti zulfi Tulis Di Artike diatas Ta’aruf makna khusus ini (menuju pernikahan) Prosesnya, untuk pihak ikhwan bersilaturrahiimnya mendatangi Rumah pihak akhwat. ikhwan  itu boleh sendiri, tapi lebih baik bersama orang yang ilmu Agamanya benar, baik itu paman atau ustadz yang sekarang dikenal juga dengan kata murabi, lebih baik lagi di barengi juga kedua Orang tua supaya proses Ta’aruf-nya jelas, lebih di percaya, lebih saling kenal mengenal, lebih saling menilai Antara kedua belah pihak.

Tatkala pihak ikhwan bersilaturrahiim mendatangi Rumah akhwat, Untuk akhwat harus di barengi dengan mahramnya Yaitu kakaknya Dan lebih baik dibarengi dengan Orang tuannya serta orang yang ilmu Agamanya benar atau ustadz/murabi.

Di dalam proses itu mereka saling bertanya Dan saling menjawab tentang kedua belah pihak, serta ada proses nazhar-nya Yaitu proses ikhwan nazhar (melihat, memandang) Akhwat. Begitu pula Akhwat boleh nazhar ikhwan

Misalkan belum beres Proses ini Tanpa Ada keputusan Dilanjut Tidaknya Ta’aruf oleh kedua belah pihak. Ternyata pihak Akhwat besoknya Atau lain Waktu Ta’aruf (menuju pernikahan) Ganda Dengan menerima Ikhwan Lain. Atau pihak ikhwan bersilaturrahiim mendatangi Rumah akhwat lain untuk Ta’aruf Ganda. Ini sama dengan Menzhalimi orang Tanpa Etika. Kecuali masing-masing pihak proses Ta’aruf sebelumnya berakhir.

* "-berani taaruf, berani menikah... siapkan mentalmu!,
* Deadline taaruf maksimal 3 bulan,
* *hati2 taaruf ganda.. biasanya, orang yg melakukan taaruf ganda adalah orang yg tidak yakin kepada Allah"

Terjawab Sudah..


Alhamdulillah.. Subhanallah beres… kurang lebihnnya Zulfi minta maaf, zulfi hanya mencoba menyampaikan yang haq, dengan segala segala keterbatasaan waktu,ilmu, Dan kondisi lainnya. Yang benarnya hanya Dari Allah Azza wa jalla.


By: http://www.zulfi19.cybermq.com/
Wallahu A’alam bishshawab.
 Subhanakallahumma wa bihamdika, Asyhadu alla ilaha illa anta, Astaghfiruka wa atuwbu ilaik.
Billahi taufiq wal hidayah..
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
 



Dikirim pada 24 Desember 2009 di curhat......
comments powered by Disqus
Profile

hmmm... Orang yg berusaha mmperbaiki diri.. yg tdk mngkin lepas dari kesalahan & dosa....!!! semoga saja kelak zulfi termasuk orang mukmin yang berhati bersih yg di ridhai Allah Azza Wa Jalla… Aamiin.. Aamiin.. Ya Allah ya rabbal ’alamiin.. More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 747.517 kali


connect with ABATASA